;

Translate

Showing posts with label Alam dan Budaya Indonesi. Show all posts
Showing posts with label Alam dan Budaya Indonesi. Show all posts

Sunday, December 29, 2013

Indonesian Culture Natural Beauty of Gorontalo Sulawesi

Sunday, December 29, 2013

There was something severely wrong about the scenario before me. A colorful deep- sea Nautilus shell appeared strikingly out of place against the dull background of a muck site bottom at gorontalo, on the south-western coast of North Sulawesi. With jerky motions, it moved awkwardly forward, not backwards, away from me. 

Indonesian culture, Gorontalo, sulawesi

My dive computer read a depth of only 8m, and the possibility of hallucinations from narcosis was quickly ruled out. My logical conclusion what that is wan an injured Nautilus having trouble going back to its home in the abyss. As I got nearer, its  movements halted and it collapsed onto the sand bottom. 

Reaching over for a closer look,  I couldn’t help bursting into uncontrollable laughter- a different cephalopod, namely a coconut octopus, had taken residence in a discarded Nautilus shell, carrying this prime piece of real estate wherever it went. Ahh…it was good to the back.

I had pestered Rance, owner OF  Miguel’s Diving, to bring me to the exact sites where Stephen Wong and Takako Uno had captured their stunning images for the book-Gorontalo: Hidden paradise (2005). This was my first return to Gorontalo since its publication.

Rance took me to Sponge Wall to see the Salvador Dali sponge that wong and Uno famously photographed, which was published on the cover of Asian Diver issue #96. Even with a fisheye lens on my camera, I had trouble fitting the entire sponge inti the frame. Futilely swimming around it, I developed a great respect for Uno’s incredible effort. Up shallower, Rance showed me some 10 large cornet fish congregating around a soft coral. I found it annoying that they allowed me to get close to absorve them, but dispered the very moment I attempted to lift up my camera.

Marlin encounter
In an attempt to “copy” Wong’s image of Gorontalo’s governor swimming with a shoal of razor fish, I dived Sentinels in front of olele village. The resident razor fish were most uncooperative. They either hid behind a nearby black coral bush, or gathered in front to block my model.In the chaos, my eagle-eyed model-cum-dive master, showed me a tiny nudibranch climbing onto a sensitive, blue tunicate which was curling up at its touch, just below the black coral bush. Accepting the fact that I am not the great wide-angle wizards that Wong and Uno are, I reverted to what was more manageable-macro photography.

Back on the surface, after we had taken our masks off, we noticed a half-submerged log-like structure just 2m away from us. It had three long branches sticking out of the water. The dive master took some time to convince us that it was a marlin with its bill and the tips of its dorsal and tail fins sticking out the water surface. Before we could put our masks back on, it flicked its tail fin and disappeared with splash, thus ending the possibility of my first marlin encounter.

Jinn’s caves
The weather was good the next day and we visited jinn’s Caves. I was able to keep myself occupied in front of a big bush of overgrown hydroids at a submerged pinnacle down deep. With my camera trained on it.  I saw that a long-nosed hawkfish moved into the foreground. At that depth, I was slow to focus, but my trigger-happy fingers immediately went into involuntary action.

 I almost used up the entire roll of film, only to regret that when Rance showed me a smaller Salvador Dali sponge growing just outside a cract on the wall. With only a few frames left on the wide-angle camera, I planned my shots carefully. Fortunately, the sun was in a perfect position, and the dive master was the best model I could hope for
All of us were low on air when we reached the reef flat and the group was heading for even shallower water. I stayed behind and found a unique piperfish living inside a small cluster of white xenia coral. The patterns on its body were totally different from a similar pipefish I had seen in Manado. Reaching for my macro camera. I saw another photographer from the group turn and fin towards me. I gestured to thank him for coming back to keep me company, but found he actually.

SEJARAH BUDAYA - 11:48 AM

Monday, September 2, 2013

Suku Asmat dan Suku-suku di Papua

Monday, September 2, 2013

Suku Asmat merupakan salah satu suku yang terdapat di Papua, namun suku Asmat ini terbagi dalam dua bagian, ada yang tinggal di pesisir pantai dan ada juga yang tinggal di pedalaman, karena memiliki wilyah yang berbeda secara otomatis kehidupannya pun berbeda.

Perbedaan itu bisa dilihat dari cara hidup, struktur social, dan ritual. Sedangkan populasi suku Asmat yang berada di pesisir pantai terbagi lagi kedalam dua bagian, yaitu suku Bisma dan suku Simai. Suku Bisma berada di antara Sungai Sinesty dan Sungai Nin. 

Kehidupan suku Asmat banyak menggantungkan pada alam setempat, seperti melakukan berburu untuk memnuhi kebutuhan hidupnya, makanan pokok suku Asmat yaitu sagu dan mereka juga sering berburu babi hutan, komodo, kasuari dan ular untuk dimakan.

Suku, Asmat, di Papua, bangsa

Namun yang banyak dikenal dari suku Asmat ini adalah seni ukirnya yang khas. Selain memiliki keunikan, hasil ukiran suku Asmat disetiap ukirannya bersemayam citra dan penghargaan atas nenek moyak mereka yang sarat dengan kebesaran suku Asmat.

Suku-uku di Papua

Selain suku Asmat, masih banyak lagi suku-suku yang ada di Papua diantaranya, Suku Dani, Suku Amungme, Suku Kamoro, Suku Bauzi, dan Suku Maroni. Wilayah yang banyak ditempati oleh suku-suku yang ada di Papua ini biasanya dilereng-lereng pegunungan dan di daerah-daerah dipedalaman hutan belantara.

Suku Dani

Suku Dani berada di wilayah Wamena, suku-suku lain yang terdapat di daerah ini antara lain suku Yali dan Lani, ketiga suku ini memiliki cirri khas masing-masing seperti dari segi budaya, adat istiadat, dan bahasa.

Suku Dani merupakan salah satu suku yang terkenal dengan kegemarannya melakukan perang-perangan. Budaya  ini ditampilkan dalam festival budaya tahunan di Lembahmumi Baliem.
Beberapa rumah adat di suku Dani digunakan untuk menyimpan mayat yang diawetkan dengan ramuan tradisional.  

Mumi tersebut, antara lain Mumi Aikima, Jimka, dan Pamo. Mumi Aikima berusia 350 tahun, Mumi Jimka berusia 300 tahun, dan Mumi Pamo berusia 250 tahun. Ketiga Mumi tersebut masih berada di Wamena.

Suku Amungme

Dataran tinggi Papua dihuni oleh suku Amungme. Suku ini adalah kelompok Melanisisa yang terdiri atas tiga belas ribu orang. Melihat tempat permukimannya yang tetap dapat memberikan kesan bahwa mereka menempati daerah yang strategis. Daerah tersebut memungkinkan mereka terlindungi dari jangkauan musuh.

Suku Amungme menjalankan system pertanian berpindah-pindah. Suku Amungme sangat terikat kepada tanah leluhur. Mereka juga menganggap bahwa daerah disekitar gunung merupakan daerah suci. Gunung suci tersebut diagung-agungkan oleh masyarakat Amungme. Salah satunya adalah Nemang Kawi, Nemang berate panah yang suci atau perdamaian. Wilayah Amungme disebut Amungsa.

Suku Kamaro

Salah satu suku yang berada di Papua adalah suku Kamaro. Suku ini tersebar di wilayah pesisir pantai Kabupaten Timika Agats sampai Jita. Sebagaimana suku-suku yang menetap di pesisir pantai, suku Kamoro memiliki mata pencaharian utamanya sebagai nelayan.

Suku Kamoro juga terkenal dengan suku yang pandai berburu. Selain itu, mereka juga terkenal akan ukiran, nyanyian, topeng, roh, dan tariannya. Suku Kamoro memiliki ritual membuat gendang dengan menggunakan darah sebagai hiasannya.

Suku Bauzi

Bagian utara Papua dihuni oleh suku Bauzi. Suku ini terdiri atas 1500 orang. Wilayah suku Bauzi adalah sebagian besar daerah Memberamo Hilir di Papua Utara.

Masyarakat suku Bauzi merupakan sekelompok bangsa yang menganut Animisme. Namun, saat ini 65 persen dari mereka beragama Kristen. Semua orang Bauzi berbicara menggunakan bahasa yang sama. Para ahli bahsa telah mempelajari bahsa suku Bauzi dan menerjemahkannya ke berbagai literature, termasuk Bibel ke dalam bahasa Bauzi.

Suku Maroni

Salah satu suku pedalaman yang berada di Papua adalah suku Maroni. Suku ini memiliki ragam budaya masyarakat yang dipengaruhi oleh kepercayaan yang dianut, yaitu Animisme.

Suku Maroni juga memiliki kepercayaan terhadap lambang-lambang (totem) tertentu. Lambang tersebut berkaitan dengan tumbuhan dan hewan. Totem harus dihormati oleh pemiliknya, bahkan marga dengan totem lain harus ikut menghormatinya. Seperti contoh, marga Gebze menganggap kelapa sebagai pohon sacral.

Mereka memperlakukan pohon kelapa dengan sangat hati-hati, seperti cara memanen, menanam, dan memeliharanya. Perlakuan buruk atas pohon tersebut akan menyebabkan kemarahan bagi pemilik totem.

(Sumber Buku: Keanekaragaman suku di  Indonesia, M. Hakim H, Penerbit Tropica. Sumber Foto: http://kebudayaanindonesia.net)

SEJARAH BUDAYA - 11:04 AM

Wednesday, August 28, 2013

Suku Banjar dan Upacara Adat Perkawinan Suku Banjar

Wednesday, August 28, 2013

Suku Banjar salah satu suku terbesar yang berada di wilayah Kalimantan Selatan, kenapa disebut terbesar?  Ya, karena suku ini cukup besar kalau dibandingkan dengan suku Dayak dan suku Bugis. Salah satu budaya  dan adat Banjar yang cukup dikenal di Nusantara yaitu “Upacar Adat Perkawinan Suku Banjar”

Puncak upacara adat ini adalah, persandingan di pe¬laminan , sebelum upacara tersebut akan didahului dengan tiga tahap upacara, yaitu: Akad Nikah adalah suatu tanda perkawinan telah resmi disyahkan oleh penghulu. Selanjut¬nya upacara Balarap, yaitu mencukur alis pengantin wanita agar nampak indah dan cantik.

Berikutnya upacara Badudus (mandi-mandi), dalam upa¬cara ini dibuatkan tempat khusus yang sudutnya diberi tombak dengan hiasan kain bersulam emas, di atasnya diberi payung. Hiasan lain adalah daun tebu dan janur, seluruh warna didominasi warna kuning, yang berarti Kebesaran dan Keluhuran.

Suku, Banjar, upacara, adat, perkawinan, sejarah suku banjar

Karena kedua mempelai sudah melaksanakan akad nikah, maka keduanya dimandikan bersama. 7 orang wanita berusia lanjut melakukan keramas dan memberi bedak 7 kali. Setelah siraman ke 6, dan siraman ke 7 nya dengan air kelapa gading muda sambil diminum airnya oleh kedua pengantin.
Kemudian diiring masuk ke balai dengan taburan beras kuning, di ruangan telah tersedia 40 jenis kue tradisional .Banjar. Di samping upacara adat perkawinan Banjar akan dipergelarkan aneka kesenian Daerah Kalimantan Selatan.

Coba kita lihat sejarah singkat Suku Banjar ini, suku Banjar ini awal mulanya adalah penduduk Sumatra dan sekitarnya yang ingin mendirikan tanah air baru yang berlokasi di Kawasan Tanah Banjar (Sekarang Kalimantan Selatan). Peristiwa itu sudah terjadi sekitar lebih dari seribu tahun yang lalu.

Selama proses waktu yang panjang itu, mereka telah bercampur dengan penduduk asli  yaitu suku Dayak dan ditambah lagi dengan para imigran yang berdatangan. Dengan adanya percampuran seperti itu maka suku Banjar memiliki subsuku Banjar yaitu, suku Banjar Pahaluan, Banjar Batang Banyu, dan Bajar Kuala.

Suku banjar berasal dari wilayah inti dari Kesultanan Banjar. Dimana wilayah ini juga mencangkup wilayah DAS Barito bagian hilir, DAS Bahan (Negara), DAS Martapura, dan DAS Tabanio yaitu pusat suku Banjar di Sungai Barito bagian hilir. Suku banjar selain menempati sebahagian besar wilayah Kalimantan Selatan mereka juga sudah mulai menempati wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur mulai abad ke-17.

Banjar Pahaluan

Biasanya suku Banjar Pahaluan ini membuat permukimannya tidak jauh dari balai suku Dayak Bukit, tetapi walaupun saling berdekatan kedua suku ini dalam kehidupan sehari-harinya mereka  berdiri sendiri. Suku Banjar pahaluan ini sebenarnya kebanyakan menduduki lembah-lembah sungai yang berhulu ke Pegunungan Meratus.

Banjar Batang Banyu

Awal mula terbentuknya masyarakat suku Banjar Batang Banyu ini sangaterat hubungannya dengan terbentuknya pusat kekuasaan yang meliputi seluruh wilayah banjar. Dan ada kemungkinan awal mula terbentuknya masyarakat suku Banjar Batang Banyu ini di hulu Sungai Negara atau di Sungai Tabalong yangmerupakan cabang Sungai Negara. Dimana daerah tepi Sungai Tabalong merupakan tempat tinggal tradisional suku Dayak Maanyan, yang diduga ikut serta membentuk subsuku Batang Banyu.

Banjar Kuala

Suku Banjar Kuala merupakan campuran dari suku-suku yang ada di Kalimantan diantaranya, Melayu, Bakumpai, Barangas, Maanyan, Ngaju, Lawangan, Jawa, dan Bukit. Suku Banjar Kuala terbentuk dari difusi kebudayaan yang ada dalam keratin, yaitu kerajaan Daha dalam bentuk Kerajaan Banjar Islam. 

Suku Banjar Kuala ini banyak menempati wilayah sepanjang Sungai Tabalong dan muaranya di sungai Barito sampai dengan Kelua, dan Martapura. Sedangkan sebahagiannya lagi ada yang bermukim di kaki pegunungan Meratus dari Tanjung sampai Pelahira.

(Sumber Buku: 1. Keanekaragaman suku di  Indonesia, M. Hakim H, Penerbit Tropica.  2. TAMAN MINI “INDONESIA INDAH” Sumber Foto: http://explorewisatakalimantan.blogspot.com)




SEJARAH BUDAYA - 2:46 PM

Suku Aceh Pelopor Agama Islam di Nusantara

Julukan Serambi Mekah pada Aceh sangatlah tepat, selain faktor agamanya yang sangat kental yaitu Islam, Aceh juga memiliki budaya yang lekat dengan budaya timur tengah. Hal ini tidak lepas dari peranan para pendatang asing yang kebanyakan dari bangsa Arab dan India yang banyak mendatangi Aceh.

Suku Aceh merupakan suku bangsa di Idonesia yang pertama kali memeluk agama Islam. Dan mereka juga termasuk suku bangsa yang mendirikan kerajaan Islam. Penduduk Aceh merupakan keturunan berbagai suku, kaum dan bangsa. Leluhur orang Aceh berasal dari Semenanjung Malaysia, Cham, Cocho, dan Kamboja.

Suku Aceh mendiami wilayah Pulau Sumatra disebelah ujung utara, bahasa yang digunakan adalah bahasa Aceh dan masyaraknya meyoritas memeluk agama Islam. Bahasa aceh merupakan bagian dari bahasa Melayu-Polynesia Barat, yaitu cabang dari bahasa Austronesia.

kebudayaan suku aceh, suku bangsa aceh, bahasa suku aceh

Bangsa asing yang dulu banyak singgah di aceh yaitu bangsa arab dan India, namun kebanyakan bangsa Arab yang datang ke Aceh berasal dari Hadramaut, karena terbukti dengan nama marga yang banyak disandang oleh orang asing itu, diantaranya al-Habsyi, al-Alaydrus, Bawazier, al-Attas, Sungkar, dan al-Kathiri mereka datang sebagai ulama dan pedagang. Setelah mereka bercampur dengan penduduk asli Aceh dan banyak yang menikah dengan orang Aceh, lambat laun nama marga mereka banyak yang tidak dipakai lagi.

Selain percampuran bangsa Arab, suku Aceh juga banyak bercampur dengan bangsa Persia dan Turki dan jumlahnya pun cukup banyak. Pada awalnya bangsa Persia dan Turki ini datang atas dasar undangan Kerajaan Aceh untuk menjadi ulama dan serdadu perang Kerajaan Aceh. Dan akhirnya banyak juga dari mereka yang menikah dan memiliki keturunan, dan keturunan mereka banyak tersebar di wilayah Aceh Besar.

Tidak hanya orang-orang timur tengah saja yang memiliki hubungan dengan suku aceh, para pedagang Cina pun pernah memiliki hubungan erat dengan suku Aceh. Hal ini di tandai dengan kedatangan Laksamana Cheng Ho yang singgah dan menghadiahi Aceh dengan sebuah lonceng dengan berukuran besar (Lonceng Cakra Donya). Dari semenjak itu hubungan kedua belah pihak cukup erat terutama dalam urusan perdagangan.
(Sumber Buku: 1. Keanekaragaman suku di  Indonesia, M. Hakim H, Penerbit Tropica.  2. TAMAN MINI “INDONESIA INDAH” Sumber Foto: http://fokusaceh.blogspot.com)



SEJARAH BUDAYA - 1:57 PM

Tuesday, August 27, 2013

Suku Kutai dan Budaya Kalimantan Timur

Tuesday, August 27, 2013

Suku Kutai dan Budaya Kalimantan Timur dua hal yang tidak bisa dipisahkan, karena budaya yang ada di kalimantan timur semuanya dimiliki oleh suku Kutai.
Suku Kutai  adalah suku asli yang mendiami wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur, suku Kutai merupakan suku Melayu Tua (Proto Melayu) sama halnya dengan suku-suku Dayak yang ada di Kalimantan Timur.

Suku Kutai diperkirakan masih serumpun dengan suku Dayak, khususnya Dayak rumpun Ot Danum. Adat istiadat lama suku Kutai memiliki banyak kesaam dengan adat istiadata suku Dayak rumpun Ot Danum, khususnya Benuaq. Kesamaan dalam upacara Erau dan Belian serta mantra-mantra dan ilmu gaibnya.

Namun, suku kutai akan menolak bila disebut suku Dayak, menurut suku Kutai, mereka berbeda dengan suku dayak. Meskipun demikian, suku Kutai dan Dayak saling menganggap saudara (bedengsanak)

suku kutai, budaya, kalimantan, timur,

Didalam suku Kutai dikenal  kata Puak, yang memiliki arti suku. Puak di dalam suku Kutai ada lima diantaranya, puak Pantun, puak Punang, puak Pahu, puak Sandawar atau Tulur Djejangkat, dan puak Melani.

Puak Pantun mendiami wilayah Muara Kaman dan sekitarnya, suku ini merupakan suku tertua di daerah Muara Kaman, dan suku ini yang mendirikan Kerajaan Kutai Martadipura di Muara Kaman pada abad keempat Masehi.

Puak Punang atau sering disebut juga puak Kedang. Puak Punang diperkirakan hasil percampuran puak Pantun dan puak Sendawar. Puak Punang memiliki kerajaan sri Bangun di kota Bangun. Pada masa kerajaan kutai Matadipura, kerajaan tersebut dikenal  dengan nama Negeri Paha. Puak Punang tersebar di beberapa wilayah seperti, Kota Bangun, Muara Muntai, Danau Semayang, dan Sungai Belayan.

Puak Pahu memiliki wilayah di daerah Kedang Pahu, suku tersebar di  daerah Muara Pahu dan sekitarnya. Sedangkan puak Sendawar atau puak Tulur Djejangkat adalah suku yang mendiami wilayah Sendawar (Kutai Barat). Suku ini mendirikan Kerajaan Sendawar di Kutai Barat.

Puak Melani adalah suku Kutai yang memiliki wilayah di daerah pesisir. Puak Melani merupakan suku termuda di banding dengan puak-puak yang lain. Dalam suku ini terjadi percampuran antara suku Kutai asli dengan Melayu Malaka.

Budaya Kalimantan Timur

Kalimantan Timur pernah mencatatkan sejarah kebesaran kerajaan Kutai. Karya seni budaya kerajaan ini mulai dikenal sejak abad ke XIV. Salah satu khasanah budaya dan adat istiadat kerajaan Kutai adalah upacara pengan¬tin adat Kutai.

Dalam seni tari, Ganjur-Ganjur adalah tarian khas ke¬rajaan Kutai, yang dibawakan ketika berlangsung upacara pengantin adat, atau pada saat menyambut kedatangan tamu agung kerajaan Kutai. 

Biasanya ditarikan oleh 5 pasang  penari lelaki dan wanita. Di samping tari Ganjur, suku Dayak yang merupakan bagian penghuni daerah Kalimantan Timur di pedalaman juga memiliki tari Perang, tari Gong, taxi Gantar dan lain-lain.

(Sumber Buku: 1. Keanekaragaman suku di  Indonesia, M. Hakim H, Penerbit Tropica.  2. Buku: TAMAN MINI “INDONESIA INDAH” Sumber Foto: http//okimoslem.blogspot.com)

SEJARAH BUDAYA - 11:15 AM

Suku-suku Di Kalimantan, Suku Dayak Bakumpai, Suku Dayak Bukit, dan Suku Dayak Mali

Kalimantan salah satu Pulau yang kaya dengan budaya, terutama dari segi sosiologinya. Suku-suku di Kalimantan di dominasi oleh Suku Dayak Bakumpai, Suku Dayak Bukit, Suku Dayak Mali, dan Suku Dayak Benuaq.

Suku Dayak Bakumpai

Suku Dayak Bakumpai adalah bagian atau subetnik dari Suku Dayak, nama bakumpai ialah sebutan bagi Suku Dayak yang mendiami aliran sungai Barito. Kata Bakumpai secara etimologi memiliki dua kata yang memiliki arti tersendiri. Ba yang berarti memiliki, sedangkan Kumpai memiliki arti suku yang mendiami wilayah dengan rumput banyak.

Suku-suku di Kalimantan, Suku Dayak Mali, Bakumpai, Bukit,

Kebannyakan Suku Bakumpai ini mendiami sepajang Sungai Barito, mereka mendiami kota Marbahan, Barito Kuala,  Puruk Gahu, dan Murung Raya. Sedangkan Suku Bakumpai terbanyak terdapat di Kabupaten Barito Kuala. 

Sebagian Suku Bakumpai bermigrasi dari hulu Sungai Barito menuju hulu Sungai Mahakam, yaitu ke Long Iram,  Kutai Barat, dan Kalimantan Timur.
Suku Dayak Bakumpai pada awalnya beragama nenek moyangnya, namun setelah membentuk sebuah suku bagsa Bakumpai sekarang mereka memeluk agama Islam.

Suku Dayak Bukit

Suku Dayak Bukit ini dinamakan juga Suku Ukit, Buket, Bukat atau Bukut. Namun sebutan yang dipakai yaitu suku Dayak Meratus alasanya karena Suku Dayak Bukit merupakan suku asli yang mendiami Pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan.

Bagi masyarakat setempat kata Bukit bermakna sekelompok orang atau rumpun keluarga yang merupakan cikal bakan masyarakat lainnya. Sebagian besar suku Dayak Meratus terdapat di Kabupaten Kota Baru.

Dalam segi tempat tingga suku Dayak Bukit Berbeda dengan suku Dayak, biasanya suku Dayak tinggal di rumah Panjang namun untuk suku Dayak Bukit mereka tinggal di rumah besar yang dinamakan Balai. Balai berbentuk memusat, tidak berbentuk panjang seperti kebanyakan rumah adat suku Dayak.

Suku Dayak Mali

Suku Dayak Mali sangat menghormati kepala Adat atau Demang. Jabatan demang merupakan jabatan tertinggi dalam adat. Sedangkan pemuka adat yang lain adalah panglima perang.
Agama yang dianut di suku ini yaitu Kristen Katolik dan Kristen Protestan. Namun masih ada sebagian yang menganut kepoercayaan atau agam nenek moyang yaitu Animisme dan Dinamisme.

Kehidupan Suku Mali kebanyak diisi dengan berladang karena berladang menurut mereka tradisi dari nenek moyang, dan melakukan berladangnya slalu berpindah-pindah, alasannya karena menurut mereka lading berpindah-pindah berkaitan dengan kesuburan tanah. Mereka percaya bahwa ladang yang dibuka setiap tahun akan mengurangi kesuburan.

Pelaturan hukum adat di Suku Dayak Mali sangat dijungjung tinggi, bagi suku Dayak Mali mendapatkan hukuman adat  merupakan hukuman yang sangat memalukan.

Masyarakat Dayak Mali membangun pedagi sebagai tempat penyembahan kepada Jubata (Tuhan). Pedagi merupakan tempat untuk menaruh persembahan dalam upacara adat. Dayak Mali mereka meyakini bahwa pedagi  merupaan rumah sementara Jubata di dunia ini. Pedagi biasanya dibangun dekat dengan rumah penduduk.

“Kamang” dipercaya masyarakat Dayak Mali sebagai pembawa kejahatan dan penyakit. Masyarakat Dayak Mali halnya membuat persembahan untuk “Kamang” apabila ada hajatan kampung secara besar-besaran, seperti syukuran setelah panen atau ketika ada perang.

Untuk Suku Dayak Benuaq Telah di bahas pada postingan sebelumnya_

(Sumber Buku: Keanekaragaman suku di  Indonesia, M. Hakim H, Penerbit Tropica. Sumber Foto: news.flyontiket.com )


SEJARAH BUDAYA - 9:49 AM

Suku Dayak dan Suku Dayak Benuaq

Suku Dayak

Kalimantan merupakan pulau yang memiliki empat provinsi yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Di Indonesia Kalimantan merupakan salah satu pulau terbesar, di daerah ini terdapat juga Suku yang cukup terkenal  di dalam negeri maupun di luar negeri yaitu Suku Dayak atau Daya.

Suku ini awal mulanya berasal dari daratan Cina Selatan yaitu Yunan, penduduk ini  berimigran secara besar-besaran  ke Kalimantan pada tahun 3.000-1.500 SM. Mereka membentuk kelompok-kelompok kecil untuk menyebar diseluruh Kalimantan  dan sebagian dari mereka mengembara ke Tumasik  dan Semenanjung Melayu.

Terjadinya bangsa  Asia berimigran ke pulau Kalimantan dikarenakan  Pulau Kalimantan memiliki perbatasan yang sangat dekat dengan perbatan-perbatan yang ada di Negara-negara asia lainnya.  Ras mongoloid dari Asia mengembara melalui daratan dan akhirnya sampai di Pulau Kalimantan dengan melintasi pegunungan.

Suku Dayak, Sejarah Suku Dayak, Suku-Suku Di Kalimantan, agama suku dayak, asal suku dayak

Suku Dayak awal mulanya tidak semuanya mendiamai pedalaman di Pulau Kalimantan, namun setelah terdesak oleh kedatanagan bangsa Melayu seperti orang-orang Jawa, Bugis, Makasar  yang mulai memadatangi dan mendiami wilayah Kalimantan, maka kelompok dayak ini terpencar dan lebih banyak yang mendiami pedalaman Pulau Kalimantan.

Setelah kedatanagn dari bangsa Melayu, ternyata Pulau Kalimatan memiliki daya tarik alam tersendiri  sampai-sampai bangsa-bangsa lain juga  banyak yang berdatangan ke Pulau ini. Dengan kejadian seperti itu Suku Dayak Kalimantan semakin tersingkirkan. Maka terjadilah pecahan-pecahan kelompok kecil  atau sub-subetnik yang banyak menyebar di pedalaman Kalimantan, selain itu banyak juga yang menyusuri sungai-sungai hingga ke hilir yang  kemudian mendiami pesisir Pulau Kalimantan.

Kelompok Suku Dayak terbagi  dalam berbagai subsuku yang kurang lebih berjumlah 405. Namun dari sekian banyak subsuku Dayak yang ada di Pulau Kalimantan mereka memiliki adat istiadat dan budaya yang hampir sama.

Hal ini merujuk pada sosiologi kemasyarakatan  adat  istiadat kemasyarakatan adat istiadat, budaya, maupun bahasa yang khas. Adapun subsuku Dayak itu antara lain : Suku Dayak Benuaq, Bakumpai, Ngaju, Meratus, dan Maloh.

Suku Dayak Benuaq

Suku Dayak Benuaq banyak mendiami di wilayah sungai Kedang Pahu yang terletak di pedalaman Kalimantan Timur dan di daerah Danau Jempang, sedangkan  Suku Dayak Benuaq yang mayoritas terdapat di Kutai Barat, Kalimtan Timur. Jumlah mereka hampir 60% masyarakat Kutai Barat.

Kata Benuaq berasal dari kata benua, yang memiliki arti suatu daerah atau daerah territorial, seperti sebuah Negara. Namun secara sempit benua ialah daerah atau wilayah yang didiami sebuah kelompok atau komunitas. Kata benuaq ialah sebutan orang Kutai untuk kelompok Suku Dayak yang hidup menetap di suatu daerah.

Suku Dayak Benuaq menganut kepercayaan Animisme dan Dinamisme. Mereka berpendapat bahwa alam semesta dan semua mahluk hidup mempunyai roh dan perasaan yang sama seperti manusia. Menurut mereka hanya akal yang membedakan antara manusia dan mahluk lain.

Suku Daya Benuaq sangat peduli terhadap alam dan lingkungan sekitar, mereka sangat memperhatikan betuk kehidupan alam sekitar, hal itu dikarenakan suku ini memiliki pendapat bahwa “segenap alam semesta  termasuk tumbuh-tumbuhan dan hewan harus diperlakukan sebaik-baiknya. Dan mereka meyakini bahwa perbuatan semena-mena dan tidak terpuji akan menimbulkan malapetaka. Oleh sebab itu merek amengelola alam semesta dengan penuh perhatian.

Suku Dayak Denuaq sangat patuh pada apa yang diyakininya, mereka sangat patuh terhadap aturan-aturan adat yang ada. Mereka percaya apabila pemangku adat melakukan perbuatan yang menyimpang baik itu disengaja atau tidak akan mendapat kutukan dari Nayuq. 

Perwujudan kutukan berupa kematian mendadak atau perlahan-lahan, atau kutukan lain seperti susah mendapat rezeki.
Suku Dayak Benuaq memiliki seni kerajinan kain yang khas yang bernama Ulap Doyo, selain itu adat istiadat masyarakat Dayak Benuaq masih terlihat pada upacara prosesi kematian.
(Sumber Buku: Keanekaragaman suku di  Indonesia, M. Hakim H, Penerbit Tropica. Sumber Foto: kaskus.co.id)

SEJARAH BUDAYA - 9:17 AM

Saturday, August 24, 2013

Mengenal Bengkulu dan Sulawesi Selatan

Saturday, August 24, 2013

KESENIAN TRADISIONAL BENGKULU

Di samping letaknya di pesisir pantai yang strategis, daerah Bengkulu terkenal dengan hasil ladanya. Penduduk¬nya sebagian besar memeluk Agarna Islam, sehingga ada beberapa jenis kesenian tradisional yang berkaitan dengan kegiatan keagamaan. Salah satunya adalah kesenian tradisional "Ikan Ikan", yang diselenggarakan setiap tahun sekali ketika berlangsung upacara "Tabot Muharam".

Kesenian Ikan-Ikan ini di antaranya berbentuk boneka raksasa mirip ikan paus, yang diarak ramai-ramai dalam upacara " Tabot Muharam ", grup kesenian ini akan men¬ceritakan tentang ditemukannya binatang langka melalui pembacaan Pant un/syair.


Seusai kesenian " Ikan-Ikan dilanjutkan dengan per¬gelaran tari dan lagu-lagu daerah. Tarian yang dipergelar kan di antaranya adalah tari "Putri Gading Cempaka” yang mengisahkan legenda putri bungsu di suatu kerajaan masa lalu, di Bengkulu yang cantik dan halus budinya.

Untuk jenis musik dan lagu-lagu Daerah Bengkulu. akan disajikan lagu-lagu dari Daerah Rejang, daerah Serawai dan lagu-lagu Melayu Bengkulu.


PESONA BUDAYA SULAWESI SELATAN

Sulawesi Selatan terkenal dengan 4 (empat) rumpun suku terbesar yaitu, Bugis, Makasar, Mandar, dan Toraja. Dalam acara Panorama Budaya Sulawesi Selatan, akan digambarkan dalam bentuk busana adat daerah yang terdiri dari pakaian adat Bugis, Bugis Luwu, Makasar, Mandar, dan Toraja.


Di dalam seni tari, Sulawesi Selatan mengenal tari Pakarena dari Makasat (Goa), tan Pajaga dari Bugis Luwu, tan Pattudu, dari Mandar, tan Pagellu, dari To-raja, tan Pajoge dari Bugis, dan tan yang menggambarkan Sulawesi kampung halaman kita (Sulawesi Para-sanganta).

Masyarakat Sulawesi Selatan mengenal seni kerawitan, merupakan kreasi musik yang dipadukan dalam lagu Langgam Makassar modern. Jenis musik ini disebut musik Turiolo, akan mengiringi lagu Ati Raja dan. lain-lain yang populer bagi masyarakat Sulawesi Selatan.

Sebagai bagian dari khasanah budaya Sulawesi Selatan, akan dipergelarkan upacara Appasiari Baju, yaitu mata rangkaian upacara adat Bugis Makasar, yang diselenggarakan bagi anak putri pada masa dikhitankan, dan diutamakan pada masa Aqil Baliq (menginjak remaja).
(Sumber Buku :  TAMAN MINI "INDONESIA INDAH")

SEJARAH BUDAYA - 1:51 AM

Mengenal Aceh dan Irian Jaya

 

ACEH YANG DIKENAL DENGAN JULUKAN TANAH RENCONG

Inilah Nama Kota dan Kabupaten yang ada di Aceh. Kabupaten Aceh Besar (Janto), Aceh Pidie (Sigli), Aceh Utara (Lhokseumawe), Aceh Timur (Langsa), Aceh Tengah (Takengon/Gayo), Aceh Tenggara (Kotacane), Aceh Barat (Meulaboh) dan Kabupaten Aceh Selatan (Tapak Tuan).

Aceh, dikenal dengan rencongnya. Dalam k2sempatan ini dipamerkan berbagai jenis rencong yang sangat unik dan halus buatannya. Hiasan rencong dibuat dari gading, ada pula yang dibalut emas, bahkan dihiasi dengan berlian. Di samping itu akan diadakan pameran dan penjualan kerajinan rakyat, di antaranya sulaman benang emas.


Dalam seni musik, masyarakat Aceh mengenal musik tradisional Serunai Kale, yakni bunyi irama seruling yang mengiringi lagu bernafaskan religius. Lagu-lagu yang di¬bawakan adalah berisikan keagungan Tuhan yang sering disebut "Rabana" dan kisah Nabi Muhammad SAW.

Unsur religi juga nampak pada tanampai Aceh dan tari Hu ( = menyala). Gerakan tubuh yang menimbulkan bunyi dipadu dengan suara mulut penarinya, membuat tari ini sangat menarik dan unik.

Masyarakat Aceh mengenal kesenian P'mtoh, yaitu suatu kisah berlagu yang dilakukan oleh seorang pemain dengan rebana melagukan syair yang diucapkan dengan improvisasi, spontan dan terasa komunikatif dengan yang hadir.

PERAGAAN UPACARA PERDAMAIAN (KAMUKI) IRIAN JAYA


Pada zaman dahulu kala, peperangan antar suku sering terjadi di daerah Irian Jaya. Suku yang kuat ingin memperluas kekuasaannya dengan menyerang wilayah suku lain, maka terjadilah peperangan.

Perang antar suku ini bisa berlangsung lama, sehingga banyak mengorbankan jiwa dan harta benda. Untuk mengatasi pertumpahan darah yang berlarut-larut, para pemuka adat mengambil kebijaksanaan dengan mengadakan persetujuan perdamaian yang disebut "Kamuki".


Berkaitan dengan upacara perdamaian antar suku itu, Anjungan Daerah Irian Jaya menampilkan peragaan upacara "Kamuki", yang dilaksanakan oleh Suku "Bira" dan Suku "Waropen".

Dalam acara itu kedua Panglima perang dari masing-masing suku memegang sepotong bambu. Kemudian seorang pemuka adat yang disegani tampil ke depan memotong bambu tersebut menjadi 2.

Acara berlangsung dengan diiringi petuah-petuah yang intinya agar tidak terjadi lagi peperangan. karena perang itu merusak, merugikan, dan menghancurkan kehidupan_ Acara dilanjutkan dengan sajian tari "Ular" dari suku "Waropen" dan tari "Nakoda" dari suku "Bira". 

Kemudian kedua kelompok suku tersebut bergabung diri dengan membawakan tan Yosin, tari Pancar dan Lemon Nipis. Dan permusuhan pun berubah menjadi pesta gembira dari dua suku tersebut.
(Sumber Buku :  TAMAN MINI "INDONESIA INDAH")

SEJARAH BUDAYA - 12:39 AM

Wednesday, August 21, 2013

Foto Pemandangan Alam di Indonesia

Wednesday, August 21, 2013

Foto pemandangan alam di Indonesia, foto-foto di bawah ini berlokasi di wilayah sulawesi tengah








Lokasi: Desa Podi, Kec Ulubongka

 Lokasi: Desa Cempa, Kec Ulubongka 

 Lokasi: Desa Padapu, Kec Tojo

 Lokasi: Desa Cempa, Kec Ulubongka 

 Lokasi: Desa Cempa, Kec Ulubongka 

 Lokasi: Desa Cempa, Kec Ulubongka 

 Lokasi: Desa Podi, Kec Ulubongka 

 Lokasi: Desa Podi, Kec Ulubongka 

 Lokasi: Desa Podi, Kec Ulubongka 

 Lokasi: Desa Padapu, Kec Tojo

 Lokasi: Desa Tampa nombo, Kec Tojo

 Lokasi: Desa Bugi, Kec Tojo

 Lokasi: Desa Bugi, Kec Tojo

Lokasi: Desa Bugi, Kec Tojo


SEJARAH BUDAYA - 5:41 PM

Tuesday, August 20, 2013

Keindahan Alam Indonesia di Pulau Sulawesi

Tuesday, August 20, 2013


Keindahan alam Indonesia tidak kalah dengan keindahan alam yang ada diluar negri (Eropa), salah satu bukti dari sekian banyak keindahan alam Indonesia bisa kita lihat di Kecamatan Ulubongka, Desa Cempa, Sulawesi Tengah, hal ini terbukti bahwa alam Indonesia memiliki panorama alam sangat eksotik.

Kita bisa lihat fotonya dibawah ini, mukin sebagaian orang Indonesia belum banyak yang mengetahui lokasi pemandangan ini, padahal keindahan alam Indonesia ini banayak dicari orang, baik dari luar maupun dari dalam negri sendiri.





keindahan, alam, indonesia, panorama, pemandangan





Selain memiliki keindahan alam pegunungan dan sungai seperti foto diatas, Sulawesi tengah juga memiliki pemandangan laut yang luar biasa (itu menurut saya….) nih liat fototnya di bawah ini!!!

keindahan, alam, indonesia, panorama, pemandangan 







Keindahan alam Indonesia ini patut kita jaga dan sukuri, karena kita berada di Negara yang memiliki keindahan alam yang sangat sempurna.

Banyak orang yang merasakan manfaat dari keindahan alam seperti ini, selain memiliki dampak yang positif pada lingkungan disekitar ternyata ada juga orang dalam negri maupun luar negri yang merasakan kedamaian yang luar biasa ketika berada disekitar alam tersebut.

Saya bertrima kasih pada masyarak sekitar yang mampu menjaga kelestarian alamnya, terutama untuk warga Desa Cempa, besrta pemerintahan setempat (Spesial buat Mas Wawan dan Keluarga) yang telah mengenalkan keindahan alam setempat kepada saya.

SEJARAH BUDAYA - 6:40 PM